ANTISIPASI KECELAKAAN, PT. TRANS MARGA JATENG BERLATIH SAR


Semarang – Memiliki jalur yang sangat indah namun ekstrim, itulah jalan bebas hambatan atau jalan tol yang dimiliki oleh Trans Marga Jateng. Jalan tol yang menghubungkan Semarang hingga Bawen dan di rencanakan hingga Solo tersebut memang memiliki kontur tanah yang berbukit bukit. Dengan pemandangan gunung ungaran serta perbukitan yang ada di sekitarnya menjadikan Tol Semarang – Bawen yang memiliki panjang 22,95 km tersebut menjadi sangat indah dan memanjakan mata pengemudi yang melintasinya.

Namun di balik keindahan tersebut ada potensi bahaya didalamnya. Hal ini terlihat dari jalur turunan yang curam serta tanjakan yang terjal membuat pengemudi harus ekstra hati-hati. Terlebih jembatan darat yang menghubungkan antar bukit memiliki ketinggian yang cukup membuat takut orang yang melihatnya. Dari jembatan Tembalang yang memiliki ketinggian 10 meter hingga jembatan Lemah Ireng yang juga merupakan jembatan darat terpanjang di Indonesia yang memiliki ketinggian 45 meter dengan panjang mencapai 879 meter menjadikan jalur Tol tersebut rawan akan kecelakaan.   Atas dasar itulah PT. Trans Marga Jawa Tengah (PT. TMJ) yang merupakan anak perusahaan PT. Jasa Marga selaku pengelola Jalan Tol Semarang-Bawen menyelenggarakan pelatihan SAR (search and Rescue /Pencarian dan Pertolongan) dengan melibatkan Basarnas Kantor SAR Semarang sebagai instrukturnya. Pelatihan yang diikuti 28 petugas dari Patroli Jalan Tol dan Petugas Paramedis tersebut dibagi dalam dua tahap yang berlangsung selama 4 hari dari tanggal 19 hingga 22 Januari 2014.   “Pelatihan ini untuk meningkatkan pengetahuan petugas akan SAR, melatih ketrampilan SAR yang sudah didapat serta mendidik sikap petugas terhadap SAR” ungkap Sabililah, Manager Operasional PT. Trans Marga Jateng saat pembukaan pelatihan di aula Kantor SAR Semarang (19/1). “kami juga akan melibatkan pihak Basarnas dalam patroli lebaran di jalan Tol karena selama ini yang kami libatkan baru dari kepolisian dan Dishub” lanjut Sabililah saat disinggung tentang kerjasama PT. TMJ dengan Basarnas.   Kepala Kantor SAR Semarang, Agus Haryono dalam sambutannya menyambut baik pelatihan ini  dan berharap dengan adanya pelatihan ini respon time penanganan kecelakaan akan semakin cepat dan berimbas pada minimnya korban jiwa. “ Yang penting semua siap siaga! jalani pelatihan dengan baik dan ikuti arahan instruktur serta utamakan keselamatan” pesan Agus kepada para 14 peserta pelatihan tahap pertama.   “Materi pelatihan yang diberikan lebih kepada pertolongan pertama gawat darurat dan materi pertolongan di ketinggian atau high angle rescue” ujar Nyoto, koordinator instruktur Basarnas saat ditemui di lokasi praktek lapangan. “mengapa kita mengambil latihan disini karena disinilah tempat yang sebenarnya. Jadi jalur Tol Trans Marga Jateng ini lebih banyak jurangnya, dengan ada jembatan yang kedalamannya hingga 50 meter. Jadi memang kita ambil latihan di alam sebenarnya” sambung Nyoto.   Pelatihan tersebut berlangsung cukup santai namun serius. Para peserta cukup antusias mengikuti kegiatan itu. Sebut saja Ony Herbowo (25th) yang memiliki bobot hingga 104 kg. Melakukan Rappling bukan hal yang baru bagi dia namun dia tetap saja masih merasa deg-degan untuk melakukannya lagi. “Takut sih mas, karena dulu tidak setinggi ini rapplingnya, tapi ya harus dilakukan” jawab Ony, petugas patroli jalan Tol saat ditanya yang dirasakannya ketika harus menuruni jembatan dengan ketinggian 13 meter hanya dengan menggunakan tali tersebut. Hal serupa juga dirasakan oleh Dinda Bayu. Pemuda 24 tahun tersebut mengaku baru pertama kali melakukan rappling. “ sejak dulu saya belum pernah melakukannya mas, baru kali ini. Rasanya takut dan deg-degan, tapi penasaran juga”timpal Bayu sambil tersenyum kecil.   Berbeda dengan yang dirasakan oleh petugas paramedis, Dwi Purnomo. Dia yang sudah bergabung di PT. TMJ sejak tahun 2011 lalu sudah pernah melakukan sekali pelatihan seperti ini. “saya ikut pelatihan sudah dua kali ini, yang pertama tahun 2013 lalu, juga dilatih oleh Basarnas, jadi sudah pernah merasakannya” tutur Dwi dengan nada mantap. “pelatihan ini penting karena jalur Tol sangat ekstrim karena banyak jembatan dan tebing di KM. 25-26” sahutnya kemudian.   Agus Pramono, yang juga Supervisor bagian Unit Pelayanan Lalu Lintas dan Kamtib PT. TMJ (anak perusahaan jasa Marga)mengatakan bahwa jalur Tol ini selama tahun 2014 terdapat 75 kasus kecelakaan yang terjadi dengan arus kendaraan yang mencapai 600ribu kendaraan tiap bulannya. “ dari ke 75 kasus tersebut untungnya tidak ada korban jiwa, sebagian besar karena kurang antisipasi, seperti tidak mematuhi aturan lalu lintas dalam hal kecepatan” cerita Agus. “ Selain itu ada juga karena mengantuk ataupun ban selip” pungkas Agus yang telah mengabdi di PT. Jasa Marga selama 22 tahun itu. (za)



Kategori General Artikel .
Pengunggah : author
20 January 18:00 WIB