BELAJAR, BELAJAR DAN BELAJAR


MENGADAKAN pameran memang bukan kali pertama kami selenggarakan. Hanya saja kali ini pameran yang kami selenggarakan memang berbeda dengan pameran yang sebelumnya sudah kami lakukan. Biasanya kami menyelenggarakan pameran out dor seperti di lapangan. Tapi kali ini kami diberi kepercayaan untuk menyelenggarakannya di Ina Garuda Hotel, jalan Malioboro Yogyakarta, Selasa (11/3) dan Rabu (12/3). Space yang sempit dan mewahnya ruangan hotel sangat kontras dengan peralatan dan perlengkapan yang biasa kita pamerkan di out dor. Misalnya saja rescue truk, ATV, perahu karet dan alat evakuasi lainnya. Maka, hal itulah yang memaksa kami memutar otak sehingga tercetus sebuah ide untuk melaksanakan pameran foto. Untuk membuat pameran foto memang tidak semudah yang kami fikirkan. Yakni : memilih foto, editing foto, cetak kemudian pasang. Ternyata tidak. Memilih foto diantara banyak foto, apalagi yang berjumlah ratusan atau bahkan ribuan susahnya ampun – ampun. “Yang ini bagus, empat orang rescuer sedang menggendong manula menyebrangi sungai yang kanan kirinya penuh dengan hamparan material tanah longsor. Untuk berjalan saja susah, apalagi dengan menggendong orang dewasa, sehingga harus dibantu dengan tali karmantel yang dibentangkan sebagai pegangan. Sayangnya rescuernya tidak bersepatu,” kata Zulhawary yang memang jago memilih gambar. “Udah gak masalah, nanti kakinya di-crop saja biar gak kelihatan nyekernya,” kata saya yang kebagian tukang ngedit gambar. Setelah proses pemilihan gambar selesai kami laksanakan selanjutnya kami cetak kasar kemudian diajukan kepada Kepala Kantor, Agus Haryono. “Waah, foto saya kok gak ada,” kata pria berkacamata itu. Iya – ya…, setelah diteliti satu-per-satu foto pak Agus memang gak ada, padahal foto beliau yang dilapangan juga banyak. Bahkan beliau memang tak jarang memimpin langsung operasi SAR. Sebut saja operasi SAR banjir di sepanjang Pantura akhir – akhir ini, operasi SAR nelayan hilang dan beberapa operasi SAR dan kegiatan lainnya. Ok. Setelah melalui filter dan seleksi Kepala kantor akhirnya di sepakati 24 gambar yang akan di pamerkan. 20 gambar akan dicetak dalam ukuran 16 RS sedangkan 4 lainnya dicetak dengan ukuran 20 R. Langsung, hari itu juga file dimasukan ke cetak foto sekaligus pigura dan finishingnya. Alamaaak…..!!! Harga yang sebelumnya kami survey tidak sesuai dengan kebutuhan cetak untuk pameran. Kalau cetak  biasa, biasanya piguranya menggunakan kaca. “Kalau untuk pameran, jangan menggunakan pigura kaca mas, tetapi tanpa kaca, biar tidak ada resiko pecah kalau dibawa ke mana – mana,” kata Didik, seorang operator cetak foto di jalan Kaligarang, Semarang. Kata dia, foto untuk pameran biasanya piguranya tanpa kaca, untuk melindungi gabarnya dengan cara dilapisi oleh laminasi kanvas. Harganya, selisih lebih 25%. Tapi hasilnya, jangan ditanya. “Gambarnya bagus – bagus Ris, saya juga mau gambarnya dipasang di ruangan saya,” ujar Agus Haryono saat melihat hasil  gambar yang sudah dipamerkan, Rabu (12/3), kepada saya. Kalau pak Agus ingin memasang gambar di ruangannya, lain halnya dengan pak Hernanto, Ka.Kansar Surabaya. Mantan Kepala Bagian (Ka.Bag) Humas Basarnas tersebut terang-terang meminta gambar Helikopter baru milik Basarnas. “Kalau yang ini apa boleh aku bawa pulang Ris,” ujarnya sambil mengangkat standing frame 20 R yang berisi gambar Helikopter Doulphin yang baru baru ini mampir ke Bandara Ahmad Yani, kemudian gambarnya diabadikan oleh maulana Affandi, Kamis (6/3). Gambar tersebut memang mencolok. Empat buah gambar besar sengaja kami pasang berjajar  di sepanjang jalan utama menuju ke ruang Nakula, tempat diselenggarakannya “The 2nd Asean Transport SAR Forum”. Sedangkan 20 gambar lainnya kami pasang di lorong yang membentang di sepanjang ruang Nakula. Sisi kanan pintu kami pasang enam gambar sedangkan di sisi kiri kami pasang 14 gambar. Untuk melengkapi dan mengisi sisi ruanganan yang kosong di ujung samping kanan kami pasang TV flat 43 inch untuk memutar video dokumenter. Kami juga tambahkan beberapa peralatan SAR seperti satu set alat selam dan peralatan komunikasi. Di sisi kiri juga kami isi dengan majalah, souvenir dan liflet dimana pengunjung bisa mengambilnya untuk dibawa pulang. Untuk mempercantik ruangan yang memang sebenarnya sudah cantik, di sisi kanan dan kiri pintu masuk kami pasang dua buah manikin. Sisi kanan kami pasang manikin menggunakan seragam Pakaian Dinas harian (PDH) lengkap dengan sepatu, atribut, pangkat, dan topinya. Sedangkan di sisi kiri kami pasang mainin menggunakan Pakaian Dinas Lapangan (PDL) orange komplit dengan baret, sepatu, atribut dan brefetnya. Di sudut – sudut ruangan kami pasang beberapa rol up benner dan X-banner untuk  menutupi kekosongan. Kerja kami memang jauh dari sempurna, akan tetapi kami berupaya sebaik mungkin untuk menghasilkan yang terbaik. Kritik dan saran selama pameran juga kami tampung dan menjadi bahan evaluasi kami. Misalnya saja caption yang menggunakan bahasa Indonesia. Saran dari Kepala Kantor SAR Balikpapan, Bang Indra sangat kami maklumi. Kami sebelumnya juga sudah punya ide untuk memakai bahasa Internasional. Namun maaf, semua itu keterbatasan sumber daya kami. Sedangkan kalau harus mendatangkan pakar bahasa Inggris, waktunya sudah jam 16.00 WIB. Para staf Kantor SAR Semarang yang ahli bahasa Inggris sudah pulang. Namun demikian, Humas yang terdiri atas empat orang : Zulhawary Agustianto, Maulana Affandy, Jupri Wicaksono dan saya, Aris Triyono berkomitmen untuk terus belajar, belajar dan belajar.(ris)



Kategori General Artikel .
Pengunggah : author
13 March 12:28 WIB