KANTOR SAR SEMARANG LATIH BPBD KABUPATEN TEGAL


TEGAL - Tim Instruktur Basarnas Kantor SAR Semarang, memberikan materi pelatihan water rescue yang digagas oleh BPBD Kabupaten Tegal. Pelatihan dimulai pada Jumat (5/12) dan dilaksanakan hingga Minggu (7/12 yang diikuti sebanyak 28 peserta dari TNI, PMI, RAPI, Senkom Polri, Nelayan serta Masyarakat. Sekda Kabupaten Tegal Haron Bagas menyambut baik pelatihan water rescue tersebut. Menurutnya pelatihan ini sebagai upaya untuk mengatisipasi datangnya musim penghujan yang dapat menyebabkan banjir. Dengan pelatihan ini, kata dia, juga bertujuan untuk meningkatkan kamampuan peserta dalam menangani bencana  sehingga terbentuknya masyarakat desa siaga bencana. "Diharapkan setelah pelatihan ini akan bermuara pada ketangguhan personil dalam melakukan penyelamatan," imbuhnya. Menurut Kepala Kantor SAR Semarang Agus Haryono pelatihan sebagai ajang koordinasi sehingga memudahkan penanganan bencana. Agus mengakui, di wilayah Pantura bagian barat belum ada Pos SAR, sehingga koordinasi Basarnas belum bisa berjalan secara maksimal. Respon time ketika ada musibah juga akan lama, untuk itu dirinya berharap nantinya akan ada pembentukan Pos SAR Tegal. Dihadapan peserta pelatihan Agus menyampaikan bahwa Sekda menyambut baik  pendirian Pos SAR Tegal.  "Bahkan Pak Sekda akan menyiapkan ruangan sementara untuk Basarnas di Kantor BPBD Kabupaten Tegal," terangnya. Instruktur Kantor SAR Semarang Hardi Amanurijal mengatakan, seluruh peserta antusias mengikuti pelatihan water rescue tersebut mulai materi firs aid, kedaruratan lingkungan dan pengenalan teknik water rescue. Menurut Hardi materi first aid meliputi penilaian korban dan resusitasi jantung paru (RJP).  Penilain dini dilakukan dengan pemeriksaan fisik dari ujung kepala sampai ujung kaki. Adapun yang dicari adalah kemungkinan cidera pada korban, pembengkakan, perubahan bentuk tulang, perdarahan dan nyeri tekan. Sedangkan materi kedaruratan lingkungan lebih detail membahas korban yang diakibatkan suhu panas dan dingin. Korban yang kedinginan akan mengalami hipotermia jika kondisi itu terus dibiarkan korban akan terus menggigil, kesadaran menurun, nadi melemah, syok dan berakibat kematian. Cara menanganinya adalah dengan diberi minum hangat dan pertahankan suhunya dengan selimut. Masih menurut Hardi, ada selanjutnya korban hiportemia yang diakibatkan karena suhu panas misalnya, orang bekerja dalam kondisi panas akan kepanasan dan mengalami kejang panas, heat crams atau kram. Biasanya kram di kaki, perut, jari tangan dan kaki. Jika kondisi ini terus dibiarkan korban akan mengalami kejang otot, heatstroke (sengatan panas), tidak berkeringat lagi, detak nadinya cepat tapi lemah, penurunan tingkat kesadaran, nafasnya dangkal, hingga berakibat pada kematian. Cara menanganinya adalah dengan diberi minum, pindahkan di tempat yang sejuk, kaki ditinggikan 20 - 30 cm. Jika ada, kasih dia larutan garam.

Hari kedua, lanjut Hardi, dilanjutkan dengan pengenalan water rescue. Materinya meliputi keselamaatan di air, teknik pertolongan di air, self rescue.  Seangkan hari ketiga ditutup dengan praktik renang, praktek olah gerak prahu karet, naik dan turun perahu, cara angkat korban ke prahu dan teknik dayung. (ris/zl)



Kategori General Artikel .
Pengunggah : author
8 December 9:20 WIB