LONGSOR MELULUH LANTAKKAN BANJAR NEGARA


Banjarnegara – Bencana tanah longsor terjadi di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara, Jumat (12/12/2014) sekitar pukul 18.30 WIB. Akibat bencana ini Basarnas dan Tim SAR gabungan menemukan 95 korban tewas, 18 orang luka - luka dan 31 warga dinyatakan hilang tertimbun tanah. Berdasarkan keterangan yang berhasil dikumpulkan dari beberapa saksi mengatakan, longsor terjadi pada pukul 18.00 yang diakibatkan longsoran dari Bukit Telagalele. Tak kurang dari 35 rumah dengan 55 Kepala Keluarga lenyap tertimbun material longsor dan hanya menyisakan satu rumah milik Sutinem yang masih utuh. Tak tampak lagi rumah-rumah di dukuh Jemblung yang memiliki luas 17 hektar tersebut, hampir semua bagai ditelan bumi. Kejadian longsor yang begitu cepat membuat warga dukuh Jemblung tak mampu menyelamatkan diri dan bahkan bukan hanya warga Jemblung, warga diluar Jemblung pun banyak yang menjadi korban. Banyaknya korban jiwa yang berasal dari luar dukuh Jemblung tidaklah mengherankan. Sebab, lokasi Jemblung berada di tepi jalan raya yang menghubungkan Kabupaten Pekalongan dengan Kabupaten Banjarnegara. Sebelum longsor besar terjadi, di dekat lokasi kejadian telah terjadi longsor kecil yang menutup jalan sehingga membuat akses penghubung antar kota tersebut tertutup longsor. Pembersihan longsor kecil yang dilakukan pihak Pemkab Banjarnegara menjadi tontonan warga sekitar serta warga yang kebetulan melintasi Jemblung. Setelah pembersihan jalan selesai, waragapun akhirnya membubarkan diri. Namun disaat mereka beranjak, saat itulah terjadi longsor besar yang menyapu mereka. Kepala Kantor SAR Semarang Agus Haryono mengatakan, pihaknya setelah mendapatkan info kejadian tersebut segera memberangkatkan satu tim  dari Kantor SAR Semarang beserta tim-tim dari Pos SAR Jepara, Cilacap serta Surakarta. Tak hanya itu, tim Basarnas dari Yogyakarta, Surabaya, Bandung, Jakarta, Pekanbaru bahkan Basarnas Specialist Group (BSG) juga turut bergabung dalam proses pencarian dan evakuasi  korban longsor. Ada 112 personil Basarnas yang terlibat dalam aksi tersebut dan lebih dari 700 relawan baik dari PMI, Tagana, SAR MTA, SAR Sragen, SAR Purbalingga, SAR Brebes, SAR Daerah Jateng, rescue PKPU, Ubaloka Cilacap, SAR Cilacap, serta tim-tim yang lain yang turut andil. "Jadi total Tim SAR gabungan Basarnas, TNI, Polri dan potensi SAR lainnya jumlah mencapai seribu orang lebih. Proses pencarian bukanlah hal yang mudah, Tim SAR harus mampu dan jeli membaca situasi area pencarian yang mencapai 17 hektar tersebut. Tanah yang gembur adalah faktor awal kesulitan tim dalam melakukan pencarian. Tim SAR harus hati hati dalam melangkah karena salah melangkah sedikit saja, bisa terperosok hingga pinggang orang dewasa. Namun dengan pantang menyerah dan mengatasi lembeknya tanah dengan memberi alas berupa potongan kayu dan papan, akhirnya tim SAR mampu melakukan pencarian dan hingga hari ke-empat (Selasa 16/12) mampu mengevakuasi  57 korban jiwa dalam keadaan meninggal dunia. Dari ke 57 korban tersebut, banyak yang ditemukan masih didalam kendaraan mereka. Posisi mereka berada di dalam kendaraan roda 4 yang mereka tumpangi. Proses evakuasi sendiri harus menggunakan peralatan khusus seperti ekstrikasi dan urban SAR untuk membuka dan membelah kabin mobil. Bukan hal yang mudah karena bodi mobil sudah banyak yang tidak berbentuk utuh dan juga tertimbun tanah. Nyoto Purwanto selaku On Scene Commander (OSC) tak henti-hentinya mengarahkan operator ekstrikasi  untuk membuka celah bodi mobil. “Korban bisa kita evakuasi dengan alat ekstrikasi setelah hampir seharian” kata Nyoto sesaat setelah berhasil mengevakuasi korban terakhir yang berada di mobil Toyota Avanza berwarna abu-abu. Berdasarkan informasi warga yang selamat, diketahui ternyata mobil tersebut adalah mobil yang baru saja dibeli oleh salah satu warga desa Jemblung dan hendak dilakukan bancakan (selamatan-red) pada malam harinya. Sesaat sebelum kejadian anak sang pemilik bermain-main di dalam mobil tersebut dan ditemani dengan orang tua serta paman dan bibinya. Namun takdir berbicara lain, longsor terjadi dan menyapu mereka semua yang berada di dalam mobil tersebut. “Ada lima penumpang yang berada di dalam mobil avanza, empat berhasil kita evakuasi dengan cepat, namun yang satu cukup sulit karena terjepit bodi mobil yang ringsek,” tutup Nyoto. Masih menurut Agus, memasuki hari ke-lima tim SAR mulai terkendala cuaca yang tidak bersahabat, intensitas hujan mulai tinggi. Pagi berawan dan siang turun hujan hingga menjelang sore terus berlangsung setiap hari.  Hal tersebut berimbas pada terhambatnya tim SAR dalam melakukan pencarian. “Bila hujan mulai turun, semua personil  kita tarik kembali ke posko tim SAR gabungan, dan pencarian kita hentikan sementara. Bila tidak kita tarik bisa jadi tim akan terkena longsoran susulan atau bahkan petir, karena areanya terbuka “ lanjut Agus selaku Search Mission Coordinator (SMC) yang memimpin langsung proses pencarian. Meskipun terkendala hujan di siang hari, namun tim SAR mampu mengoptimalkan pencarian di pagi harinya. Hari ke-lima hingga hari ke-sepuluh (21/12) tim mampu mengevakuasi 38 korban jiwa lagi, sehingga total korban yang mampu di evakuasi dari hari pertama pencarian hingga hari ke sepuluh mencapai 95 korban jiwa. Korban yang terakhir teridentifikasi bernama Rumini (45 thn) dan anaknya Raven (5 bln) dalam posisi sang ibu memeluk buah hatinya. Evakuasi Rumini beserta putranya tersebut berlangsung dengan haru. Tampak beberapa wajah relawan yang sedih saat menyaksikan posisi mereka berdua yang berpelukan. Proses pencarian korban longsor Banjarnegara akhirnya ditutup dihari ke-sepuluh (21/12) pada pukul 11 siang. Penutupan dilakukan langsung oleh Bupati Banjarnegara, Sutedjo Slamet Utomo dengan dihadiri oleh wakil Bupati Banjarnegara, Danrem 071 Wijayakusuma, Kepala Kantor SAR Semarang, Kapolres Banjarnegara, Dandim Karangkobar, Kepala desa Sampang serta diikuti oleh ribuan relawan yang tergabung dalam tim SAR Gabungan.(ris/za)



Kategori General Berita .
Pengunggah : author
22 December 11:12 WIB