PENANTIAN DI UJUNG MATA MEMANDANG


KAKI seakan tidak ada capeknya mengayunkan langkah. Lutut rasanya sudah tak bersendi lagi. Saking jauhnya kaki ini melangkah. Sejauh mata memandang, di sana pula harapan kami dapat menemukan jasad bapak Sano (40) yang sudah berhari-hari kami cari. Sano dikabarkan hilang terserat dahsyatnya ombak pantai Pasir, laut selatan di Kebumen Jawa Tengah pada Senin (1/10) yang lalu. {READMORE}

Di laut tak berujung itu hanya nampak ombak yang saling berkejaran. Mata kami selalu tertuju pada ombak yang datang. Dengan harapan ada sesosok benda, yang kami harapkan adalah seorang pria paruh baya yang selama ini kita cari. Keluarga korban juga sudah siap dan ikhlas Sano ditemukan dalam kondisi apapun.

Upaya pencarian terus dilakukan. Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas Pos SAR Cilacap, SAR Walet perkasa dibatu nelayan dan masyarakat terus mencari. Nelayan di sepanjang pantai selatan tanpa disuruh mereka saling berbagi informasi. Satu nelayan member tahu nelayan yang lain. Demikian setrerusnya. Sehingga kabar hilangnya warga Srapi RT 03 RW 03 Kecamatan Ayah Kabupaten Kebumen ini sudah tersiar dimana mana.

Hingga Kamis (4/10) malam, seorang nelayan asal Jetis Kabupaten Kebumen mengaku sekilas melihat seonggok benda yang terapung – apung di tengah laut. Dicurigai bennda tersebut adalah jasad Sano. Sayangnya, nelayan setempat mempunyai kepercayaan bahwa  tidak akan mengangkat jasad di tengah laut ke atas kapal mereka saat mencari ikan. Pantangan bagi mereka. Katanya akan membawa sial. Oleh karenanya mereka (nelayan) sesampainya di darat meaporkan kejadian tersebut (melihat jasad) kepada petugas SAR, keesokan harinya.

Tentu, pagi hari itu juga kami, petugas SAR, segera mempersiapkan kapal untuk melaut menuju dimana benda yang diduga jasad Sano tersebut berada. Namun, lagi – lagi usaha kami tidak memuahkan hasil. Benda itu tidak ada. Yang dilihat nelayan semalam bisa benar, bisa juga salah. Misalkan saja benar benda itu adalah jasad yang kita cari, maka sudah pasti benda itu terbawa ombak lagi. Ombak dilaut terus menggeser benda apa-pun. Termasuk manusia. Bisa disamakan korban kejadian karamnya KMP. Senopati Nusantara akhir tahun 2006 yang lalu. Dalam satu jam saja korban dalam life craft sudah bergeser sejauh lebih dari 5 mil laut.

Tidak mudah memang mencari korban di laut.

Sementara itu upaya penyisiran jalur darat juga terus dilakukan. Jalan setapak di pinggir jurang kami susuri. Mata kami memandang jauh turun ke jurang. Tampak gumpalan buih berwarna putih bersih yang dibarengi datang dan perginya ombak yang seolah disambut oleh karang terjal.  Tak jarang kami harus merangkak mendaki  karang yang tegak lurus. Karena memang sudah tidak ada jalan lagi. Sesekali kami terdiam,manakala terdengar suara ombak  besar datang. Kami tertegun melihat kekuatan karang yang menahan hantaman ombak yang bertubi – tubi. Saat tertegun itu juga biasanya kami istirahat, menarik nafas panjang, menghirup udara yang kadang terasa asin di ujung lidah karena tercampur percikan air laut. Kalau sudah begini, kami membasahi tenggorokan kering kami dengan air minum yang memang kami bawa bersama dengan peralatan monetnering. Satu botol ukuran 500 mililiter cukup untuk membasahi tenggorokan kami.

Hari ini (Senin, 8/10) genap sepekan kami melakukan pencarian.  Matahari tepat di atas kepala, bayangan tubuh terlalu pendek. Jejak langkah kami kian berat. Korban tidak juga kami temukan hingga matahari  condong ke barat. “Hari ini  adalah terakhir kita melakukan pencarian.  Pencarian dilakukan selama tujuh hari, selama tujuh hari korban belum juga ditemukan maka korban dinyatakan hilang” kata Tri Joko Purnomo, Koordinator Pos SAR Cilacap saat menutup operasi pencarian.(ris)



Kategori General Berita .
Pengunggah : author
9 October 8:49 WIB