TELP (024) 7629192 FAX (024) 7629189 EMAIL : sar_semarang@yahoo.co.id


BASARNAS BERHASIL EVAKUASI PENDAKI TERPEROSOK DI PUNCAK MERAPI


BOYOLALI  - Sebanyak empat pendaki gunung Merapi berhasil diselamatkan oleh TIM SAR setelah salah satu dari mereka terperosok, Sabtu (28/4) malam. Pendaki tersebut adalah Jumiko Apriansyah (19), semuanya merupakan  mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Yogyakarta. {READMORE}  

Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, SAR Boyolali dan sejumlah komunitas relawan Merapi berhasil mengevakuasi korban Jumiko yang mengalami patah tulang pada pergelangan tangan dan kakinya. Pertama kali Tim SAR berhasil mengevakuasi dua korban, yakni, Basofi Musoni dan Muh Nurwahid. Keduanya tiba di base camp New Selo di Desa Lencoh, Kecamatan Selo, Boyolali, sekitar pukul 21.00 WIB, kata Anggota Basarnas, Nyoto Purwanto, seusai mengevakuasi keduanya.

 

Keduanya (Basofi dan Nur Wahid) terpaksa harus dituntun karena kondisinya sudah lemah. Mulutnya Basofi menggigil, itu tanda tanda hipotermia. Mereka kemudian kami selimuti dan diberi makanan seadanya sehingga kondisinya membaik. Muh Nurwahid mempunyai gangguan penglihatan, lantaran matanya minus. Akibatnya keduanya harus kita tuntun jalan turun ke bawah. “seperti mantenan mas, runtang-runtung, jalan pelan pelan bergandengan tangan” kata Nyoto. Sebab kalau tidak (bergandengan tangan) kedua mahasiswa semester dua dan empat tersebut akan jatuh tersungkur.

 

korban Jumiko dan Fahmi baru tiba Came New Selo pukul 22.30. Korban kemudian dibawa ke puskesmas Kecamatan Selo untuk mendapatkan perawatan medis.

 

Basofi mengatakan, mereka berangkat melakukan pendakian sabtu pagi sekitar jam 06.30. sampai di puncak sekitar jam 11.00. “Tak terlalu lama kami di puncak, kemudian kami berempat turun. Sekitar duapuluh menit kami perjalanan, tiba tiba Jumiko terpeleset lantaran pijakan yang labil. Beruntung Jumiko masih bisa berpegangan bongkahan batu setelah badanya terperosok hingga beberapa meter.

 

Mendapati kejadian tersebut, diputuskan dirinya (Basofi) dan Muh Nurwahid turun mencari bantuan kepada pendaki lainya dan menghubungi temannya di Yogya untuk menghubungi SAR. “setelah kami turun, kami mendapat signyal, kemudian saya sms ke teman saya yang di Jogja untuk menghubungi SAR” kisahnya.

 

Setelah mendapatkan pertologan pertama, lanjut Basofi, yakni dengan membidai tangan dan kakinya menggunakan bekas botol air mineral korban kemudian kita taruh di tempat yang teduh sambil menunggu bantuan datang.

 

Lebih lanjut  pria asal Magetan, Jawa Timur ini menegaskan bahwa pendakiannya bukan mengemban misi organisasi, melainkan hanya sebatas menyalurkan hobbynya saja. Ketiga temanya yakni Jumiko adalah warga Dusun Ngrawuh Karang Rayung Grobogan, Fahmi Asidiqi, asal Ciamis, serta Muh Nurwahid, warga Kebumen.

 

 Proses Evakuasi Jumiko, lanjut Nyoto,  terkendala karena waktu yang sudah malam, kurangnya sumber cahaya dan medan yang terjal. Sehingga perlu kehati – hatian, apalagi ini membawa korban patah tulang, sagat hati – hati. Tidak jarang kami harus jatuh dan bangun lagi karena terpeleset dan kaki menapak di jalan stapak yang berlubang. Beruntung saat itu cuaca sangat bersahabat, bintang bertaburan dan tidak kabut, setidaknya kondisi seperti ini sangat membantu tim dalam melakukan evakuasi, paparnya.
 

Lebih lanjut pihaknya menghimbau kepada para pendaki yang hendak melakukan pendakian diminta mendaftarkan terlebih dulu identitas ke petugas.  Selain itu, para pendaki terutama yang masih pertama melakukan pendakian ke Merapi, agar didampingi yang sudah berpengalaman atau sudah mengetaui jalurnya. "Para pendaki diminta membawa perlengkapan dan makanan secukupnya karena kondisi cuaca di puncak yang terkadang ekstrim”pungkasnya. (ris)



Kategori General Berita .
Pengunggah : author
30 April 10:32 WIB